Amalia prabowo merupakan seorang penulis novel berjudul “Wonderful Life”, bahkan pernah menjabat sebagai CEO di sebuah Advertising Agency. Ia berasal dari keluarga akademis. Namun kehidupan beliau berubah setelah dikarunia 2 anak dyslexia yakni Aqilurachman Prabowo dan Satria Azzam Nail Prabowo. Menghadapi kenyataan bahwa Aqil menyandang disleksia meluluhlantakkan bahkan membuatnya down. Hingga pada akhirnya ia menitipkan Aqil pada kedua orangtuanya dan memutuskan kembali setelah 1 tahun kemudian.

Berbagai peristiwa ia alami, sampai “ditampar” ucapan sang supir taksi. Saat didalam taksi ia menangis sejadi-jadinya, melihatnya menangis sang supir taksi yang ia tumpangi pun akhirnya bertanya, beliau merasa kaget dan terhina. Beliau berfikir, siapa dia sampai berani mengajaknya bicara. Beliau berasal dari keluarga yang sangat berada dan ningrat memang tak pernah bicara langsung pada pembantu. Kalau ingin mengatakan sesuatu pada pembantu, beliau sampaikan kepada kepala urusan rumah tangga. Itu sebabnya ia merasa sangat terhina dan marah ketika supir taksi itu mengajaknya bicara. Lalu sang supir taksi itupun meminta beliau melihat sepasang suami istri yang mengendarai motor bersama kedua anaknya. Seketika supir itu bilang, “ibu masih beruntung anaknya sekolah di sekolah mahal, pulang naik taksi ber-AC, sementra bapak itu tidak”. Beliau percaya yang berkata itu adalah Tuhan melalui sang supir taksi. Sampai di rumah ia meminta maaf kepada mama dan mengambil Aqil kembali.

Sejak saat itu ia mencari pengobatan untuk Aqil sampai akhirnya bertemu psikolog, beliau dilatih terlebih dulu lalu terapi Aqil dimulai, salah satunya harus hiking. Dan menuju kesana tidak boleh bawa mobil, melaikan harus naik angkutan umum sebab banyak kejutan yang akan didapati, muali dari bau tidak enak dan lainnya sehingga otaknya akan terangsang.

Lantaran Aqil disleksia, adiknya Satria pun segera ia periksa. Ternyata Satria juga disleksia. Karena kedua anaknya disleksia, ia jadi mengenali bentuk tulisan anak disleksia. Ternyata semua anak penyandang disleksia bentuk tulisannya sama. Hingga akhirnya Aqil dan Satria menemukan lifeskillnya. Aqil memiliki bakat di bidang seni rupa, ia senang melukis bahkan pernah mengikuti New York Fashion Week sebagai desainer muda, sedangkan Satria menyukai matematikan namun yang lebih menonjol di bidang fotografi.

Anak disleksia tidak memiliki sequence, anak diseleksi bisa dengan cara pembiasaan berulang. Tugas orangtua adalah memperkuat percaya diri anak disleksia dan memfasilitasi kesenangan anak. Percayalah bahwa saat Tuhan memberikan tugas kepada kita sebagai orangtua dari anak disleksia adalah tugas yang menyenangkan, lihatlah keindahan dan keberkahan Tuhan dari anak kita. Beri anak ruang untuk meluaskan kreatifitas mereka karena kelebihan mereka akan muncul secara tiba-tiba.

Sekolah alam tangerang mekar bakti mengajak para orang tua apapun keadaan anak kita, mari kita jaga amanah ini dengan sebaik-baiknya, dengan terus belajar mencari tahu, ikuti setiap parenting yang diadakan di sekolah alam tangerang mekarbakti. Karena kelak kita semua akan ditanya bagaimana kita menjaga setiap amanah kita.

Back to top